Cara Nikmati Menu Daging Tanpa Was-was




Dengan cara yang tepat, diabetesi bisa mengonsumsi daging (wallpapersinhq.com)




Dengan cara yang tepat, diabetesi bisa mengonsumsi daging (wallpapersinhq.com)



VIVAlife – Perayaan Idul Adha tinggal menunggu hari. Sebentar lagi semua umat muslim menyambutnya. Dalam perayaan ini, banyak makanan lezat disajikan. Dan sebagian menu itu berbahan dasar daging, baik itu sapi maupun kambing.


Sajian lezat berbahan daging tentu menggugah selera. Tapi tahukah Anda, hidangan yang banyak mengandung lemak dan santan justru akan mengganggu pola makan sehat bagi penderita diabetes, yang disebut diabetesi.


Jadi, khususnya untuk penderita diabetes harus pintar-pintar mengatur diet daging, termasuk pada Hari Raya Kurban. Dengan demikian, para diabetisi tetap dapat menikmati makanan lezat, tanpa takut kesehatannya terganggu.


Seperti diungkap pakar endokrin FKUI/RSCM, dokter Em.Yunir Sp.PD-KEMD, saat ditemui di Tee Nine Resto & Lounge, Jakarta. "Makanan berlemak berpengaruh pada diabetisi yang disertai gangguan lemak. Ini disebut sindroma metabolik," ungkapnya.


Sindroma metabolik merupakan kumpulan gangguan metabolisme seperti obesitas di perut, kadar lemak trigliserida (lemak santan) tinggi, kadar lemak HDL (lemak baik) rendah, tekanan darah naik, kadar glukosa tinggi, dan gangguan lain.


Diabetisi yang sudah terkena sindroma metabolik akan berisiko terkena tambahan penyakit, seperti jantung, stroke, dan penyakit pembuluh darah lain. Oleh karena itu, diabetes tidak hanya harus memeriksakan kadar gula darah secara teratur, tetapi juga perlu memeriksakan kadar lemak.


"Kalau karbohidrat dimakan, penyerapannya lebih cepat dibanding lemak. Pada orang-orang yang tadinya sudah mulai turun kadar gulanya, lalu makan karbohidrat dalam waktu 10 menit, gulanya cepat naik. Tapi saat karbohidratnya dihilangkan lalu makan lemak, maka penyerapan lemaknya lama. Kenaikan berat badannya terjadi pelan, sehingga sehabis makan akan segera terjadi kenaikan gula darah," ujar Yunir.


Gejala Diabetes


Kini di masyarakat terjadi perubahan pola hidup. Contohnya, yang sebelumnya sering jalan kaki dan rajin melahap makanan berserat, justru tiba-tiba berubah. Makanan berkolesterol justru lebih banyak dikonsumsi, makan dagingnya lebih banyak, dan aktivitas fisik menurun. Alhasil banyak orang sakit, termasuk yang dialami orang yang tiba-tiba menderita diabetes.


"Di Barat, orang-orangnya cenderung kelebihan berat badan. Angka diabetesnya tinggi karena terkait kegemukan. Kalau di Indonesia, angka kegemukannya lebih sedikit tapi diabetesnya tinggi. Sebab di badan kita ada resistensi insulin,” terang dokter itu.


Insulin itu tidak sensitif, ini yang menyebabkan gula darah naik dan terkena diabetes. Gejala awal penderita diabetes adalah cepat lelah, duduk sebentar langsung ngantuk. “Dan yang sering terjadi adalah sering bolak-balik ke kamar mandi, ingin buang air kecil. Satu lagi, ada yang tiba-tiba berat badannya makin turun, padahal makannya banyak," tambah Yunir.


Rendah Lemak


Karenanya biasakan pola hidup sehat, ini penting dimulai sekarang juga. Tidak hanya untuk menjaga aktivitas dan berat badan, tetapi juga pilihan makanan yang dikonsumsi.


Pilih makanan yang banyak serat, misalnya sayur dan buah. Selain itu antioksidan harus dijaga. Makan buah yang kulitnya bisa dimakan, seperti tomat, anggur, delima, apel, dan stroberi. Mereka bagus karena kandungan antioksidannya ada di kulit.


Tak hanya itu, terkait pemilihan daging saat Idul Adha, Yunir juga menyarankan agar memilih daging YANG berlemak rendah, "Ada di bagian paha, dan jangan ambil bagian-bagian yang lemaknya banyak. Waktu direbus, lemaknya keluar maka ia harus dibuang.


Ambil bagian daging yang lemaknya sudah larut dalam air. Dagingnya dipakai, airnya dibuang. Kalau bakar dagingpun jangan sampai gosong, karena ada karbon yang bisa terbentuk. Kalau daging dipanggang akan jadi lebih bagus," jelasnya. (ren)