Boleh Kaya, Tapi Jangan Konsumtif




Sikap konsumtif menjauhkan Anda dari kekayaan sejati. (inmagine)




Sikap konsumtif menjauhkan Anda dari kekayaan sejati. (inmagine)



VIVAlife - Mengelola keuangan menjadi hal penting dalam hidup setiap orang. Mendengar istilah kaya, banyak yang cenderung beeranggapan soal duniawi semata. Padahal menurut psikolog Roslina Verauli M.Psi, anggapan tersebut masuk perspektif jangka pendek.


"Biasanya perspektif untuk menjadi kaya itu malah mau tampil sederhana," kata psikolog itu, Rabu, 24 September 2014. Ia menjelaskan bahwa setiap orang penting untuk hidup dengan mental si kaya. Tapi ada hal lain yang harus dibedakan, karena menjadi kaya dan konsumtif itu berbeda.


"Karena setiap orang punya kecemasan tentang masa depannya, maka kalau mau kaya justru harus sejak saat ini harus berusaha mengurangi hal konsumtif," lanjutnya. Lebih jauh, ia ingin mengupas konsep menjadi kaya dari perspektif psikologi, bahwa tidak semua orang kaya memiliki mental menjadi kaya.


Sebaliknya, mental si miskin adalah kondisi yang mendorong kita untuk tampil konsumtif padahal kapasitas diri tak mencukupi. Pada akhirnya, orang-orang ini merasa tak cukup dengan penghasilannya karena sibuk 'tampil keren' akibat gengsi.


"Jangan salah, proses terbentuknya mental miskin terbentuk saat kita kecil menuju remaja, dan efeknya baru dirasa saat dewasa," ujar Vera. Dengan jujur, Vera sendiri mengaku memahami soal mental kaya dan miskin setelah menikah.