Studi: Demam "Selfie" Tingkatkan Keinginan Operasi Plastik




Jejaring media sosial membuat semakin banyak orang yang berlomba-lomba memamerkan foto diri sendiri. (http://ift.tt/UlUlCp)




Jejaring media sosial membuat semakin banyak orang yang berlomba-lomba memamerkan foto diri sendiri. (http://ift.tt/UlUlCp)



VIVAlife - Selfie sudah menjadi candu. Tak hanya wanita, pria pun tak lagi malu tampil dan memajang fotonya sendiri di media sosial. Mengunggahnya di Instagram, Path atau Facebook seolah menjadi eksistensi. Rasa puas pun muncul saat foto tersebut menuai banyak respon positif.

Bukan hanya sekadar eksistensi, selfie bahkan memberikan dampak besar terhadap industri bedah plastik. Demikian menurut penelitian dari asosiasi bedah plastik The American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery (AAFPRS). Dokter spesialis bedah plastik mengatakan, semakin banyak orang yang meminta prosedur rekonstruksi wajah karena ingin terlihat lebih menarik di media sosial.


Jika diterjemahkan secara statistik, di era selfie sekarang ini satu dari tiga wanita cenderung ingin melakukan operasi plastik agar bisa tampil lebih menarik. Hal tersebut didukung dengan kemudahan teknologi yang membuat orang semakin kritis dengan penampilan mereka.


Presiden AAFPRS Dr. Edward Farrior mengemukakan, sejak adanya aplikasi media sosial yang secara khusus mengunggah foto seperti Instagram serta dukungan dari ponsel dengan fitur kamera depan, semakin banyak orang yang berlomba-lomba memamerkan foto diri sendiri.


"Itu membuat pasien bedah plastik menjadi lebih teliti dengan penampilannya dan lebih sering mengritik diri sendiri dibanding sebelumnya," ujar Dr. Farrior, seperti dikutip 10 News.


Sebanyak 13 persen responden yang diteliti mengatakan bahwa mereka tidak puas dengan wajah mereka saat foto selfie. Ini yang membuat keinginan untuk melakukan bedah plastik terus meningkat. Setidaknya, pada tahun 2013, keinginan untuk melakukan transplantasi rambut, operasi kelopak mata dan konstruksi hidung meningkat dibanding tahun 2012. Prosedur tersebut diminati oleh pria dan wanita di bawah umur 30 tahun.


Penelitian itu juga mengungkap bahwa 69 persen anak-anak dan remaja yang menjalani operasi plastik melakukannya karena ditindas atau mengalami bullying yang dilatari penampilan yang dinilai tidak sempurna. Sedangkan 31 persennya melakukan operasi plastik untuk mencegah terjadinya bullying.


Dr. Farrior menambahkan, banyak orang berharap bahwa foto yang dipamerkan di media sosial dapat memberikan kesan pertama yang baik untuk mendapat teman baru, pacar serta pekerjaan.