Gaet Anak Muda, Sydney Opera House Ubah Konsep




Pemandangan Sydney Opera House di New South Wales, Australia, Minggu, 16 Maret 2014. (VIVAnews/Santi Dewi)




Pemandangan Sydney Opera House di New South Wales, Australia, Minggu, 16 Maret 2014. (VIVAnews/Santi Dewi)



VIVAlife - Pemerintah negara bagian New South Wales, mencoba untuk menggaet penonton muda agar lebih banyak menyaksikan pertunjukkan di Gedung Opera House. Salah satu cara yang ditempuh pemerintah Negeri Kanguru adalah ikut memberikan ruang kepada musisi masa kini untuk bisa tampil di gedung pertunjukkan berkelas dunia tersebut.

Demikian hal itu dijelaskan oleh pemandu wisata, Yvonne Farrel, pada Minggu, 16 Maret 2014 saat tengah memandu para jurnalis dari negara ASEAN yang diundang oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, termasuk VIVAnews yang berkunjung ke sana.


"Selain itu, kami juga banyak menampilkan pertunjukkan yang disukai oleh kaum muda. Salah satunya, dengan membuat kolaborasi pertunjukkan musik orkestra, namun mereka membawakan lagu-lagu soundtrack Star Wars," kata Farrel.


Selain itu, beberapa musisi masa kini yang pernah tampil di sana, antara lain Michael Buble dan band Foo Fighters. Hasilnya, ujar Farrel, strategi itu terbukti ampuh untuk meningkatkan jumlah pengunjung.


"Saat ini Opera House menerima kunjungan setiap tahunnya mencapai 11,2 juta," kata dia.


Selain bisa menonton pertunjukkan masing-masing bidang seni, publik juga bisa diajak berkeliling Opera House. Layanan tur tersebut, kata Farrel tersedia hari Senin hingga Jumat dan memakan biaya AU$35 atau Rp359 ribu.


Saat ini, Opera House memiliki enam ruang pertunjukkan, yang terdiri dari dua ruang dengan kapasitas besar untuk pertunjukkan musik klasik dan teater.


"Sementara sisa empat ruang lagi, digunakan untuk kepentingan penampilan balet, kabaret dan band yang ingin tampil secara akustik," ujarnya.


Sebagai gedung pertunjukkan, Opera House memiliki keunggulan lantaran ruang yang dibangun benar-benar menghasilkan suara berkualitas baik.


"Jenis kayu yang digunakan oleh arsitek Opera House yakni khusus yang hanya tumbuh di pantai New South Wales hingga Bowen, Queensland," kata dia.


Kayu tersebut digunakan di bagian dinding dan lantai di kedua ruang pertunjukkan terbesar.


Total penonton yang bisa ditampilkan ruang pertunjukkan besar mampu menampung 2.700 orang. Sementara ruang pertunjukkan yang lebih kecil, sanggup memuat 1.500 penumpang.


Bahkan, saking padatnya Gedung Opera House, pernah menampilkan enam pertunjukkan di enam ruang berbeda itu dalam waktu bersamaan.


Opera House dibangun di tahun 1959, atas ide dari Direktur Konservasi Musik Negara Bagian New South Wales (NSW), Eugene Goossens. Hal itu ditindak lanjuti dengan menentukan dari 30 lokasi terbaik untuk membangun Opera House. Akhirnya dipilih lokasi yang berdekatan dengan pelabuhan.


Kemudian, mantan Perdana Menteri Australia mengumumkan ke seluruh dunia adanya kompetisi desain pembuatan Opera House. Sebanyak 223 desain dari 32 negara diterima oleh Pemerintah NSW.


"Di bagian terakhir penerimaan, ada sebuah desain yang benar-benar berbeda dan mencengangkan. Karena desainnya luar biasa," ucap Farrel.


Awalnya pembangunan diprediksi hanya akan memakan waktu tiga tahun dan biaya AU$7 juta atau Rp71 miliar. Tapi, semua prediksi itu meleset dan dana pembangunan membengkak.


"Dana pembangunan menjadi AU$7 juta atau Rp71 miliar dan baru bisa dibuka untuk umum tahun 1973," kata dia.


Tidak hanya pertunjukkan musik klasik, tetapi Opera House juga pernah menampilan pertunjukkan wayang orang dari Indonesia. Hal itu diungkap pengamat budaya, Jaya Suprayana, kepada VIVAnews. (umi)