Studi: 90 Persen Obesitas Disebabkan Faktor Genetik




'Gen gemuk' yang bermutasi bisa menyebabkan nafsu makan meningkat dan kebutuhan energi menurun. (Boldsky.com)




'Gen gemuk' yang bermutasi bisa menyebabkan nafsu makan meningkat dan kebutuhan energi menurun. (Boldsky.com)



VIVAlife - Sudah berjam-jam olahraga dan menjalani diet ketat, tapi berat badan tak kunjung berkurang signifikan? Mungkin Anda memiliki gen yang salah. Sebab penelitian terbaru menunjukkan, 9 dari 10 orang obesitas dipengaruhi ‘gen gemuk’.


Para peneliti dari Icahn School of Medicine di Amerika menamai gen itu CEP19. Ia tak hanya ditemukan pada manusia, tetapi juga tikus dan hewan-hewan bersel tunggal lainnya. Selama 700 juta tahun, gen itu dipertahankan dalam tubuh.


Saat para peneliti mencoba menonaktifkan gen itu pada tikus, mereka jadi lebih bernafsu makan dan cenderung tidak membakar kalori. Mereka kemudian menyimpulkan, gen itu memegang peranan penting dalam menentukan nafsu makan dan tingkat kebutuhan energi.


Jika berfungsi normal, gen itu membantu orang tetap langsing. Namun ketika CEP19 bermutasi, justru bisa menyebabkan nafsu makan meningkat dan kebutuhan energi menurun. Berdasarkan percobaan pada tikus, gen itu membuat mereka obesitas dan diabetes.


Penelitian kemudian beralih ke manusia. Dr Martignetti dan Dr Adel Shalata dari Ziv Medical Centre di Israel menganalisis gen dari sebuah keluarga yang mengalami obesitas. DNA mereka diteliti lewat sampel darah.


Hasilnya, individu yang mengalami obesitas memiliki rata-rata indeks massa tubuh (BMI) 48,7. Itu angka yang jauh di atas batas normal. Mereka lalu dimasukkan dalam kategori ‘gemuk tidak sehat’. Obesitas dari gen itu, dapat memicu penyakit ginjal, hati, pankreas, dan tulang.


Dari penemuan itu, peneliti kemudian percaya bahwa terapi gen CEP19 bisa menjadi jawaban memerangi obesitas.


“Obesitas adalah epidemi global yang memengaruhi hampir semua bidang kesehatan manusia. Kasus obesitas meningkat drastis di seluruh dunia. Jika ingin memerangi penyakit ini, kita perlu memahaminya secara medis,” ujar Martignetti, seperti dikutip Daily Mail.


Pemahaman secara medis yang dimaksudnya, sudah bisa dilakukan melalui studi genetik CEP19.