Rendang 'Uda Gembul', Sukses Bergaul Sampai Seoul




Ilustrasi masakan rendang. (jelajahunik.com)




Ilustrasi masakan rendang. (jelajahunik.com)



VIVAlife - Gufron Syarif kelimpungan di kamar kosnya, Australia. Sebagai mahasiswa perantau, ia tak bisa lepas dari makanan khas Indonesia. Padahal, susah sekali mendapatkannya di sana. Di toko-toko Asia, tak ada makanan tradisional yang bisa membuatnya menitikkan air liur.


Saat itulah, mahasiswa jurusan Business IT itu bertekad. Suatu saat, ia akan meringankan beban mahasiswa perantau dengan membuatkan mereka makanan khas Indonesia yang tahan lama. Kebetulan, Gufron memang hobi memasak.


Namun, cita-cita itu tinggal menjadi impian. Lulus kuliah tahun 2007, ia pulang ke Indonesia dan langsung bekerja di sebuah bank. Tiga tahun keinginannya mencipta masakan harus terpendam. Lepas dari bank, ia menjadi dosen di Universitas Padjajaran, Bandung.


Tak dinyana, ia kemudian menikah dengan seorang perempuan asal Padang. Itu membuatnya sering menginjakkan kaki di Tanah Minang. Gufron pun berpikir, tak ada salahnya belajar memasak rendang. Namun, mertuanya kebetulan tak bisa mengolah daging berbalut bumbu itu.


“Tidak semua orang bisa, karena masak rendang itu ribet,” kata Gufron saat dihubungi VIVAlife, Kamis, 24 Oktober 2013.


Lelaki 30 tahun itu akhirnya belajar otodidak. Ia banyak membaca buku resep rendang. Gufron juga tak lelah bereksperimen. Tiga kali ia mencoba memasak rendang. Ia berbelanja sendiri, menjajal bumbu demi bumbu. Hasil eksperimennya, ia bagikan pada orang-orang dekatnya.


Sambutan mereka ternyata positif. Gufron pun makin bersemangat. September 2012, ia resmi membuka usaha rendang kemasannya. Diberinya nama: Rendang Gaul ‘Uda Gembul’. Modal awalnya, kata Gufron, hanya Rp150 ribu. Ia gunakan untuk membeli satu kilogram daging.


Visinya saat itu sederhana saja, memasarkan rendang kemasannya untuk mahasiswa perantau di negeri orang. Namun ternyata, nasib menghendaki lain. Pasar dalam negeri begitu bergelora. Dari Bandung, ia bisa menjual rendangnya sampai ke Surabaya, Malang, Balikpapan, dan Samarinda.


Lama-lama, targetnya mengimpor rendang kesampaian juga. Seorang mahasiswa S2 di Korea memintanya mengirim rendang untuk dijual kembali di Negeri Ginseng. Demikian pula seorang mahasiswa di New Castle, Inggris. Salah satu TKI di Taiwan pun mengajukan permintaan serupa.


Rendang itu dipasarkan dari mulut ke mulut, terutama di kalangan perantau asal Indonesia yang ada di negeri seberang. Toko-toko khusus Asia mulai menjualnya. Kantor-kantor Kedutaan Indonesia pun menyimpannya.


Kini, usaha Rendang Gaul ‘Uda Gembul’ kian laris manis. Setiap minggunya, Gufron mengirim 300 paket rendang ke luar negeri. Masing-masing dijual seharga Rp25 ribu. Untuk reseller, ia memberi diskon khusus hingga 20 persen.


Rahasia Rendang ‘Uda Gembul’


Apa yang sebenarnya membuat rendang ala Gufron sangat diminati pasaran? Padahal, rendang itu bukan asli Padang seperti pada lazimnya. Rupanya, Gufron memberi cita rasa yang berbeda pada rendangnya.


“Rempahnya lebih berasa. Bumbunya saya kombinasikan dengan rempah asal Aceh dan Lampung,” katanya menerangkan.


Rendang buatannya juga tahan lama. Jika masih dalam kemasan, batas kadaluarsanya sembilan bulan. Namun, jika sudah dibuka, ia hanya akan tahan satu sampai dua hari. Meski begitu, Gufron menekankan rendang kemasannya tanpa bahan pengawet.


Ia mengemasnya dengan teknologi canggih. Setahun berdagang rendang, ia sudah punya pabrik sendiri. Di sana, daging rendang dikemas dalam plastik steril yang diberi uap panas dan dingin untuk menghambat pertumbuhan mikroba.


“Rendang dibungkus plastik food grade, kemudian udara di dalamnya divakum. Setelah itu dipanaskan dengan uap lebih dari 80 derajat celcius, lalu langsung didinginkan dengan uap beku,” Gufron menjelaskan. Kini, ia bisa memproduksi 100 kilogram daging rendang per harinya.


Yang juga unik, Rendang Gaul ‘Uda Gembul’ punya level kepedasan. Masing-masing dibedakan dengan angka dan kemasan berwarna-warni ceria. Level 0, warna kemasannya hijau muda, cocok untuk anak-anak karena sama sekali tidak pedas.


Level 1, kemasannya berwarna kuning, rasanya sedikit pedas. Tingkat selanjutnya adalah level 3, dengan kemasan berwarna oranye. Ini merupakan rendang paling laris, karena rasanya pedas sesuai rata-rata.


Berikutnya, ada rendang khusus untuk pecinta rasa super pedas, dengan level 5 dan 10. Warna kemasannya merah dan hitam. Seluruh rendang itu, tersedia dalam dua pilihan, yakni ayam dan paru-paru.


Meski telah sukses, Gufron hingga kini masih mengajar sebagai dosen. Rencananya, ia juga ingin membuka restoran khusus rendang, namun dengan menu-menu modern, seperti burger atau nasi goreng rendang. (umi)