Ilustrasi tidur. (istock)
Ilustrasi tidur. (istock)
VIVAlife - Kemenangan Amerika Serikat atas Ghana pada penyisihan Grup G Piala Dunia 2014 bukan serta-merta. Dua hari sebelum pertandingan, John Brook sang pencetak gol kemenangan, bermimpi.
Dalam tidurnya, Brook telah merasakan euforia kemenangan. Ia bermimpi mencetak gol di menit-menit terakhir dengan sundulan kepalanya ke gawang lawan. Mulanya, mimpi itu tak dihiraukan.
Namun, itu menjadi kenyataan. Brook yang selama ini hanya menjadi pemain cadangan, diminta berlaga di lapangan. Ia pun akhirnya mencetak gol di menit ke-86, dengan cara yang sama seperti dalam mimpi.
Brook jelas bukan cenayang. Ia juga tak tahu mimpinya bakal jadi nyata. Namun peristiwa itu memunculkan pertanyaan baru di dunia kesehatan: benarkah kenyataan bisa diramalkan lewat mimpi?
Bukan Brook seorang yang pernah mengalaminya. Pasti ada suatu ketika, saat sebuah mimpi tiba-tiba terwujud di dunia nyata. Ilmuwan menerangkan, mimpi muncul dari pengalaman yang berkesan.
“Mimpi berkaitan dengan perhatian saat ini, dan hal-hal yang mengasyikkan dan ingin dilakukan,” kata Antonio Zadra, profesor psikologi dari University of Montreal, seperti dikutip laman Time.
Dalam kasus Brook, wajar jika bermimpi mencetak skor pada Piala Dunia 2014 yang memang sedang berlangsung. “Dia ingin membuktikan kehebatannya di lapangan. Itu muncul di mimpinya,” katanya.
Mimpinya juga masuk akal, mencetak gol di menit terakhir. Karena pada kenyataannya, Brook memang bukan seseorang yang dipasang di awal pertandingan.
Zadra melanjutkan, mimpi bisa berkaitan dengan pemenuhan keinginan diri. Mimpi yang positif, dapat menjadi dorongan atau motivasi di dunia nyata. Tubuh seperti diperintah secara tidak sadar.
“Ada fase dalam tidur, ketika otak bertanggung jawab mengaktifkan motorik seolah-olah si pemimpi terjaga,” tutur Zadra. “Jika bermimpi mencetak gol, tubuh akan secara alamiah terdogma,” imbuhnya.
Itulah yang membuat, saat Brook berada di tengah lapangan, tubuhnya tergerak untuk melakukan hal yang sama seperti dalam mimpi. Itu pula yang terjadi dalam kasus-kasus lain.
Yang menarik, dorongan itu juga bisa terjadi untuk mimpi yang negatif. Si pemimpi bisa merasa kurang percaya diri dalam kehidupan nyata, hanya gara-gara mimpi. “Intinya seperti sugesti,” ucap Zadra.