Tolak Aborsi, Perjuangan Hamil Wanita Ini Tertuang di Buku Harian




Ilustrasi wanita hamil. (iStock)




Ilustrasi wanita hamil. (iStock)



VIVAlife - Sudah lama Rachel Collins dan Tyler O’Driscoll mendambakan momongan. Ia pernah mengandung, namun dokter menyebutnya terkena kehamilan ektopik. Embrionya berada di luar rahim. Kehamilan itu terpaksa tak berujung.

Beberapa bulan kemudian, Rachel kembali hamil. Karena sangat menghargai anugerah itu, ia memutuskan menulis proses kehamilannya dalam diary, hari demi hari. Betapa ia tersiksa maupun bahagia, semua tertuang di sana.


Namun saat kehamilannya menginjak usia 20 minggu, Rachel kembali mendapat kabar buruk. Dokter menyatakan, ia menderita oligohidramnion. Itu merupakan kondisi yang menyebabkan kurangnya cairan ketuban. Bayinya hanya punya 10 persen kesempatan hidup.


Dokter pun menyarankan aborsi. Jika tidak dilakukan, janin Rachel hampir dipastikan akan meninggal. Semua kesedihan Rachel pun tertuang dalam diary-nya. Akhirnya ia memutuskan, bayinya tidak akan diaborsi. Naluri keibuannya menguat.


Ia lantas menuliskan perjuangannya menjaga janin selama sembilan bulan. Tidak mudah, karena membutuhkan berbagai perawatan khusus.


Setelah mengandung selama 30 minggu, Rachel akhirnya melahirkan bayi laki-laki secara prematur. Meski sangat mungil, beratnya hanya sekitar 1,3 kilogram, bayi itu sehat. Rachel menamainya Alfie.


“Dia adalah keajaiban kecil. Dia seperti mimpi buruk kehamilan, tapi setiap hari memberikan berkah,” ujar Rachel, seperti dikutip Mirror.


Hingga kini, Alfie tetap tumbuh normal. Sama sekali tak ada masalah kesehatan. Beratnya pun bertambah menjadi 2,7 kilogram. Rachel menuturkan, kelak Alfie akan mengerti perjalanan kehamilannya yang mengharukan.


“Ketika Alfie sedikit lebih tua, saya akan memberi jurnal kehamilan saya untuknya. Itu akan membuktikan betapa kami sangat menginginkannya dan berjuang keras melahirkannya ke dunia,” ucap Rachel. (eh)