Desainer Italia "Blusukan" ke Kampung Batik Solo




Guiseppe Perri dari sekolah mode Italia, memamerkan desain batik motif Punokawannya yang memenangi lomba. (Fajar Sodiq (Solo))




Guiseppe Perri dari sekolah mode Italia, memamerkan desain batik motif Punokawannya yang memenangi lomba. (Fajar Sodiq (Solo))



VIVAlife - Pesona batik Indonesia makin membius dunia. Buktinya, desainer dari sekolah mode tertua di Italia, Accademia Internazionale D’Alta Moda E D’Arte Del Costume Koefia, sampai rela jauh-jauh datang ke Indonesia demi batik.


Mereka mengunjungi sentra pembuatan batik di Pemalang dan kampung batik di Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Desainer dari sekolah yang terletak di Palazza Menotti, Piazz Cavour, Italia itu ingin tahu lebih dekat soal batik, baik cara pengerjaan maupun filosofinya.


“Tujuan kami melihat lebih dekat proses produksi batik. Jadi kami bisa tahu, bagaimana proses membatik. Melihat nilai dan falsafahnya, sekaligus mempelajari teknik potong dalam kain membatik,” kata Bianca Cimiota Lami, staf hubungan masyarakat dari Keofia.


Giuseppe Perri, salah satu peserta mengakui, batik membawa penuh pesan. Di balik proses pembuatan batik, ada sejarahnya. Selain itu, motif batik juga sarat nilai filosofi.


“Batik dibuat agar bisa disukai oleh banyak orang. Jadi batik sebagai identitas Indonesia harus dipertahankan,” ujarnya.


Ia melanjutkan, dengan mengetahui proses pembuatan batik maka para desainer bisa lebih menjiwai eksplorasi garis rancang desainnya. Sehingga, hasil rancangan itu pun bisa membawa pesan.


“Kita di Italia, awalnya tidak tahu proses pembuatan batik. Tapi setelah kita tahu betapa rumitnya, kita bisa memahami batik itu. Untuk memperoleh hasil desain yang bagus, perlu ada kerjasama antara desainer dengan perajin batik,“ kata Guiseppe menambahkan.


Bianca menjelaskan, kunjungan itu terkait lomba desain batik yang bekerja sama dengan KBRI di Roma. Terdapat 40 desain pilihan dari 200 peserta lomba. Lalu, ditentukan satu pemenang, yakni Giuseppe Perri. Ia berkreasi dengan batik motif Punokawan.


Keempat-puluh desain, sudah dipamerkan di KBRI pada 17 Agustus 2013 lalu. “Muncul ide untuk membawa hasil desain ini ke Jakarta. Kami dapat kesempatan memamerkan desain batik ini di Indonesia Fashion Week 2014 di JCC, 20 Februari kemarin,” kata Bianca.


Accademia Internazionale D’Alta Moda E D’Arte Del Costume Koefia sendiri didirikan pada 1951. Sekolah itu getol mempertahankan tradisi budaya dengan penggunaan teknik haute couture. Salah satu konsentrasinya, promosi penggunaan batik untuk mode internasional. (eh)