Media Sosial 'Bahaya' bagi Wanita Lajang




Ilustrasi wanita lajang yang kecanduan media sosial. (Kencan)




Ilustrasi wanita lajang yang kecanduan media sosial. (Kencan)



VIVAlife - Kebutuhan akan eksistensi merupakan alasan gemarnya manusia mengunggah foto ke media sosial. Umumnya, foto-foto yang diunggah mengandung nuansa kebahagiaan. Foto itu kemudian akan mendapat komentar dari kawan-kawan dekat.


Kebiasaan itu memang tak haram. Tapi ternyata, foto-foto bahagia yang diunggah ke media sosial punya pengaruh buruk bagi kesehatan mental para lajang. Mereka akan menganggap hidup begitu sempurna berdasarkan gambaran itu. Pada akhirnya, timbul kecemburuan sosial.


Mereka juga punya keinginan besar untuk mencampuri urusan orang lain, atau voyeurisme dalam bahasa medis.


Pakar hubungan sosial, Zoe Strimpel, mengatakan, media sosial terlalu memborbardir para lajang dengan foto-foto pernikahan, hubungan romantis pasangan, serta bayi-bayi lucu mereka. Akibatnya, para lajang berpikir bahwa hidup mereka tidak sempurna.


“Mereka terlalu fokus dengan foto-foto pernikahan yang sempurna, bayi-bayi lucu, dan pasangan yang sangat ideal,” ujarnya seperti dikutip dari laman Daily Mail. Mereka akan merasa minder sampai depresi saat membandingkan foto-foto itu dengan kondisi kehidupan pribadinya.


Penulis buku Man Diet: One Woman's Quest to End Bad Romance itu melanjutkan, media sosial juga berpengaruh pada hubungan. Dengan banjirnya informasi, wanita jadi bersikap berlebihan dalam menganalisis sesuatu. Sikap terlalu ingin tahu mengakibatkan wanita justru mendapat informasi yang tidak sehat dan tidak banyak membantu.


Misalnya, saat menemukan pria yang sesuai kriteria idaman. Biasanya, perasaan akan mengalahkan logika. Namun, ketersediaan informasi di media sosial membuat wanita tahu banyak soal latar belakang pria itu. Hanya karena ia pernah mabuk misalnya, wanita akan meninggalkan orang yang ia cintai.


Karena itu, para lajang, terutama wanita, diminta mengurangi atau menyingkirkan media sosial. Cara itu dianggap mampu mengurangi perasaan voyeurisme, iri hati, hingga narsisme yang kerap muncul pada wanita lajang.


Meski begitu, harus diakui bahwa media sosial membantu mendapat informasi yang ingin diketahui. Wanita jadi lebih mudah mengetahui nama lengkap pujaan hatinya, keluarganya, tempat berliburnya, siapa saja nama mantan kekasihnya, sampai dengan siapa ia berteman.